Ibay Menulis

Text

Catatan Dari Curug Dago (MPP Peduli Lingkungan)

Minggu (06/02/11), tujuh mahasiswa program studi Manajemen Pemasaran Pariwisata berkesempatan mengunjungi Curug Dago. Awalnya, kunjungan ini dimaksudkan sebagai salah satu bentuk refreshing sekaligus mencari link dari sejumlah praktisi pariwisata yang kerap mangkal di kawasan itu.

Rencana kunjungan ke Curug Dago sebelumnya diposting via grup MPP-08 (di facebook), juga sudah diinformasikan ke sejumlah orang. Tanpa mendapat kepastian berapa jumlah anak-anak yang akan ikut serta, sebuah sms saya kirim ke Pak Wayan, salah seorang pengelola kawasan wisata Curug Dago: “ Pak, besok sekitar 10 orang mahasiswa dari UPI mau ikut beberesih di Cikapundung”. Tak lama berselang, sebuah sms jawaban diterima: “Siap”

***

ANTARA MENDUNG, KARUNG, SEMUT, DAN KALAJENGKING

Minggu pagi, mendung membuat kami (Saya, Ibay, Padan, Mpik “BF”, Yuda Arianto, Bayu “Atang”, dan Lucky “Greenwood”) sulit membuka mata. Namun mengingat janji akan tiba di Curug Dago sekitar pukul 07.00 wib, akhirnya kami bangun juga dengan terpaksa.

Awalnya, kami sedikit pesimis dengan jumlah mahasiswa yang datang ke Curug Dago. Abah Hardi mendadak sakit, Mbak Lala “CEO” nggak ada konfirmasi, sementara Bang Dinda (dari Banjaran) bangun kesiangan. Dengan jumlah personil seadanya, janji harus tetap ditepati. Curug Dago harus tetap kami datangi.

Setibanya di Curug Dago, kami menuju saung, basecamp yang biasa dijadikan tempat diskusi. Setelah mengenalkan diri dan disambut dengan hangat oleh orang-orang di sana, Pak Ade (salah seorang aktivis lingkungan Curug Dago) memberikan 7 buah karung kepada kami. “Di darat dulu aja yah. Nanti agak siangan baru turun ke air. Sekarang masih pagi, masih dingin. Hhehe”.

“Tugas” pertama yang diberikan pada kami adalah membereskan rumput-rumput liar di sekitar Curug Dago. Rumput-rumput yang akan dibuat pupuk kompos itu sebelumnya sudah disiangi Pak Ade. Kami tinggal memasukkannya ke dalam karung dan membawanya ke tempat komposi. Pekerjaan yang tampak remeh, namun sebetulnya menyimpan tantangan: semut! Ya, kami semua berhasil digigit semut dan alangkah menyakitkan gigitan semut-semut itu…

Sambil membereskan rumput; Lucky, Padan, Ibay, dan Fikri menyempatkan diri mencari kalajengking. Mereka terinspirasi dari dua orang anak kecil yang sedang bermain-main dengan hewan yang mulai terbilang langka ini. Di kawasan Curug Dago, selain kalajengking; ular dan makhlus halus konon masih mudah didapati… hhihi.

Karena tidak tahan menghadapi gigitan semut, tugas membereskan rumput selesai pada putaran ketiga. “Tuh kan, Ujang mah baru sebentar bersihin rumput, udah nyerah. Bapak mah dua tahun kikituan teh! Hhaha”. Kami tertawa. Apa yang dikatakan Pak Ade mengisyaratkan pentingnya ketulusan dan kesabaran dalam melakukan setiap pekerjaan.

 

BERTEMU SENIMAN

Hari sudah agak cerah. Ketika kembali ke basecamp, kami dikenalkan pada Abah Yudi, seorang seniman yang pernah membawa KITARO mengelilingi Indonesia, jauh sebelum KITARO dikenal di seluruh dunia. Abah Yudi memperlihatkan kebolehannya memainkan sebuah biola yang ia buat sendiri dari bambu. Konon, alat musik eksperimentalnya itu pernah ia mainkan di beberapa pertunjukan musik internasional di Eropa. Selain membawa dua biola bambu, Abah Yuli membawa empat buah suling juga. Kedatangan Abah Yudi ke Curug Dago adalah dalam rangka pembuatan film dokumenter yang mengangkat kisah Curug Dago itu sendiri. Kami merasa sangat beruntung bisa bertemu dengan orang sekeren Abah Yudi. Hhehe..

 

TURUN KE SUNGAI

Menikmati alunan biola bambu dan seruling yang dimainkan Abah Yudi secara bergantian, setidaknya bisa mengusir galau dari pikiran dan hati kami. Hari mulai cerah. Beberapa orang sudah turun ke Sungai Cikapundung. Lucky Greenwood, tanpa banyak bicara, ikut turun dan membersihkan sampah yang berserakan di sungai. Selain “tim pemungut sampah”, beberapa anak kecil juga kami dapati tengah bermain di sungai yang menjadi salah satu ikon Kota Bandung ini.

“Kondisi sungai semakin hari semakin parah. Sampah bertambah, lingkungan rusak. Kita tahu, terlalu berharap pada masyarakat luas dan pemerintah tidak akan menyelesaikan masalah ini. Segalanya harus dimulai dari kesadaran. Dan memungut sampah seperti yang kita kerjakan saat ini bukan perkara mudah. Apalagi membiasakannya. Kita harus memiliki komitmen dan idealisme yang kuat!”  ucap Pak Toteng, seorang security yang setiap hari menyempatkan diri membersihkan sampah Sungai Cikapundung di kawasan Curug Dago hingga Babakan Siliwangi (padahal tak seorang pun memberinya upah).

Sambil memunguti sampah dan plastik, sambil membetulkan letak batu-batu (agar arus air jadi lebih terarah), sambil merenungi kata-kata Pak Toteng, sambil bermain dan menikmati suasana yang benar-benar tak terduga; Mpik “BF” berkata dengan gaya primbon: “rupanya kita cocok kerja di air!”

 

“MENGENAL PARA PETARUNG”

Kunjungan ke Curug Dago benar-benar memberikan pencerahan bagi kami. Dari kunjungan ini kami belajar memaknai dan menanamkan ketulusan dalam segala hal. Mengenal Pak Wayan, Pak Ade, Abah Yudi, dan Pak Toteng (untuk menyebut beberapa nama), kami menemukan sosok-sosok idealis yang sangat tulus mengerahkan jiwa raganya bagi kemaslahatan lingkungan. Mereka adalah orang-orang yang menarik dirinya dari hingar-bingar pujian maupun popularitas. Orang-orang yang tidak bisa diiming-imingi materi untuk menanggakan idealismenya. Mereka adalah orang yang lebih memilih bertindak nyata ketimbang mengutuk atau menyalahkan keadaan, banyak bicara.

Dalam kaitannya dengan aktivitas pariwisata, mereka cenderung tidak begitu hafal Sapta Pesona. Namun tindakan mereka dalam merawat lingkungan agar bersih, nyaman, dan indah; patut ditiru oleh siapa saja. Terlebih oleh mereka yang mengaku terlibat dan berkepentingan dengan industri pariwisata!

 

“TIDAK SEKEDAR BERMAIN”

            Ketika matahari tepat di atas kepala, Pak Toteng menyuruh kami untuk menghentikan aktivitas memungut sampah di sungai. Kami pun bergegas membersihkan diri lantas beristirahat sejenak. Selang beberapa menit kemudian, kami ditawari bermain River Board, gratis. Biasanya, untuk menggunakan River Board setiap orang dikenakan biaya sebesar Rp. 85.000,00. Kesempatan ini tentu tidak kami lewatkan. Sisa tenaga seadanya, ditambah hari yang terik dan perut kosong; tidak membuat kami kehilangan kegembiraan di Sungai Cikapundung.

Selesai bermain River Board dan foto-foto (kebiasaan anak MPP. Wkwk), kami membersihkan diri kembali kemudian berdiskusi dengan Pak Wayan. Pak Wayan adalah orang pertama yang mengusulkan agar Wakatobi menjadi Taman Maritim Nasional. Hal itu digagasnya pada tahun 1994 dan terwujud tiga tahun kemudian, tahun 1997. Selain itu, beliau dikenal sukses mengelola sejumlah kawasan wisata di Sulawesi dan Bali. Obrolan dengan Pak Wayan mengarah pada pentingnya memanfaatkan lingkungan untuk dijadikan peluang usaha wisata, tanpa merusak lingkungan itu sendiri. Beliau juga menekankan pentingnya link atau jaringan dalam setiap usaha.

Kunjungan tujuh mahasiswa MPP ini diakhiri dengan makan bersama (Go Go Gabrug istilah MPP ’08 mah) crew Masyarakat Peduli Cikapundung (terdiri dari berbagai elemen masyarakat, di antaranya anak-anak jalanan dan aktivis lingkungan). Nasi liwet, alas daun pisang, tahu dan tempe goreng, bekicot, sambal merah, asin peda, dan lalab kami nikmati di antara desir angin dan suara sungai. Latar alam dan suasana kekeluargaan yang hangat membuat kami sangat menikmati semuanya…

by: Zulkifli Songyanan

*)Published on Wonderism Wall Magazine

Posted on Tuesday, April 5 2011.
Ibay Menulis Hello! My name is Ibay, I am a college student. I dont know what should i write in this blog! But i like music, i always create a song and write the lyrics. Maybe i can use this blog to save my lyrics...not only lyrics, but also something in my mind... ;)
ansiusdream on Facebook
Free KTP Kaskuser - ktpkaskuser.co.cc rawtag.com
Ask me anything
Previous Next